Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas.Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Bokep Jepang Pasti terburu-buru. Aku tidak berani menatap wajahnya. Ia tersenyum. Apakah perlu menhitung kancing. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Aku duduk di tepi dipan. Ia menyentuhnya. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Satu dua, satu dua. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Shit! Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Aku masih mematung. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Ah apa saja. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat.Bau tubuhnya tercium.




















