Aku menatap jam dinding. Darah seperti terpompa ke ubun-ubunku..“Aku mau di sini saja, kalau boleh. Bokep STW Kubiarkan ia terus mengerang dan mengaduh, mendesah. Aku membuka selot dan membuka pintu. Mbak Marissa berdiri di situ, dengan tank-top dan celana pendek favoritnya, yang sekarang jadi favoritku juga.“Hei, ada pintu tembus, rupanya!” celetuknya riang. Dan seperti biasa, sementara aroma angin menjelang hujan menerpa leher, setiap kali hendak hujan aku selalu teringat masa paling mengasyikkan dalam hidupku. Kan hujan dan gelap?” tanya Mbak Marisa.“Nggak. Aku balik menyerangnya, menggumulinya dan memberikan semua yang ia ingin dan ia mau. Ayahku mengangguk.Fredi kemudian memeluk dan mencium pipi MbakMarissa mesra. Kubiarkan pula ia menjadi guru yang baik dan memberikan pengalaman itu. Dan tiba-tiba rumah jadi gelap gulita. Aku yang membukakan pintu. Mbak Marissa membalasanya. Boleh, kan?” Mbak Marissa menunduk, mencoba mensejajarkan wajahnya denga wajahku.Ini membuatku dengam mudah melihat kepundan di dantara dua gunung indah di dadanya.




















