Ia tertawa. Kupandang wajahnya. Bokep STW Ia memiliki sesuatu yang membuatku tak jenuh kala memandangnya. “My God,” desahku tanpa sadar. “Ada apa?” tanyaku. “Tunggu,” katanya sambil tersenyum. Terhenti karena aku tak ingin melakukan kesalahan apapun. “Suasana yang tak menyenangkan, kurasa,” ucapnya. “Kamu begitu kikuk. “Hey, jangan cemberut begitu. Saat kubuka mataku, kulihat ia menatapku. Ia mendesah saat kutemukan puting buah dadanya. Di depan mataku, saat ia membuka pahanya, kulihat sesuatu yang membuatku terpana sesaat. Katanya, “Aku masih ingin dibelai dan dikecup.” Aku tersenyum dan mengangguk. “Aku tak suka.”
Tapi seolah tak mendengarku, jemarinya meraih batang kemaluanku. Sudah sering kudengar tentang hal ini dari canda teman-temanku. Kulihat ia memandangku, masih dengan senyuman di bibirnya. Secara otomatis lenganku terangkat dan memeluknya. Lengannya terulur meraih pundakku. “Kasar,” bisiknya. Sejuta kesan yang tiada pernah lengkap diurai dengan kata-kata. Jangan berhenti. Aku yakin, aku takkan menjumpainya lagi. Kutekan lagi pinggulku lebih kuat. “Kenapa kamu bertanya demikian? “Ruang tamu yang nyaman,” ucapnya beberapa saat setelah kuletakkan gelasku ke atas meja.




















