Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Bokep Mama “Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Ucap isteriku kalem.“Iya. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. “Alhamdulillah, jazakallahu…,” ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Hati ini menjadi luruh. Katanya mau kayak Rasul? “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku.




















