Iapun mengerti apa keinginan saya, dan langsung saja ia naik turunkan pinggulnya seperti orang naik motor di atas jalanan yang penuh dengan batu besar.Kami secara bersamaan mengeluarkan suara-suara yang tidak pernah berobah, “Aaahh.. Pada saat seperti itu, saya sudah ngerti maunya, lalu saya renggangkan sedikit kedua pahaku, kutarik sedikit kedua bibir kemaluanku, lalu ia masukkan penisnya, sebab sebelum bangun biasanya penisnya sudah berdiri lalu bangun langsung mengangkangiku. Bokep Indo Terbaru “Addampengakka puang, tappasalaka kasi, (maafkan kami bu, kami khilaf)”.Begitulah kata-kata saya di depannya dengan bahasa daerah yang sama sambil sedikit berbungkuk sebagai tanda kesopanan dan penghargaan saya padanya.“Maupe’ko tu ia bawang mitako, tania tahu laingnge, magani kira-kira nakko engka tahu lain mitako atau missengngi gaunu nye, apalagi bafa’nu, naulle kafang nauno manekko” peringatannya lebih lanjut seolah menasehatiku. Maksudnya bahwa “Untung hanya saya yang melihatmu atau mengetahuimu, tidak ada orang lain, kira-kira apa jadinya jika ada orang lain yang melihat dan mengetahuimu, apalagi bapakmu, mungkin ia membunuh kalian”.Suara dan warna mukanya mulai sedikit normal.




















