Lamunanku buyar saat Ica menawarkan menu yang mau dipesan.“Dy, kamu mau makan apa?” tanya Ica.“Mmm, anu… Terserah deh” jawabku gugup.“Kenapa say… Kok nervous gitu?” tanyanya manja.Wah dadaku berdetak keras saat dia panggil aku dengan kata “say.. Kedua tanganku memegang pinggul Ica dari balakang, sehingga memudahkan aku untuk bergerak maju mundur. Bokep Rusia Sehingga tonjolan di dada maupun di pantatnya tidak begitu nampak sebagaimana gadis-gadis yang aku kenal. Pandai sekali membuatku melayang… Aaahh… Uuuhhh”“Sayaang… Aku… Nggaa… Tahann…” untuk yang kesekian kalinya lubang kewanitaan Ica mengucurkan cairan putih pekat dibatang kemaluanku.Setelah aku puas, akhirnya aku membopong tubuh Ica dan meletakkan di pinggir ranjang. Aku membiarkan kedua tangannya menggapai kepalaku yang sedang asyik menikmati puntingnya yang kencang. Beberapa saat kemudian…“Mas… Ammpun… Aku mau keluar laagi… Mmass” kedua tangan Ica membenamkan wajahku dalam-dalam diantara kedua pahanya. Walhasil, aku ketemu dia di salah satu cafe di daerah kampus yang berada di pinggir kota.“Hey… Kamu Ica” sapaku.“Hey, Dandy ya..




















