Bias kucium harum tubuhnya.“Saya bisa kasih mbak lilin lagi kalau mau,” jawabku, aku bersiap bangkit dari kursiku.“Nggak usah,” Mbak Marisa menahanku. Bokep Tante Aku yang membukakan pintu. Ia mendekatkan wajahnya ke arahku..“Mirza, aku tahu aku lebih tua darimu. Lilinku habis.Dan aku jadi ketakutan mendengarkan suara hujan dalam gelap,” kata Mbak Marissa. Kujelajahi dengan mulutku semua permukaan dadanya. Tiba-tiba dari arah pintu bagian belakang hadir satu sosok. Mbak Marissa kembali ke rumahnya lewat pintu belakang jam 5 pagi. Pukul 9 lebih sedikit. Ayahku mengangguk.Fredi kemudian memeluk dan mencium pipi MbakMarissa mesra. Hidung mancung. Aku yang membukakan pintu. Aku menginginkannya, lebih dari yang kau impikan”. Aku hanya bisa mematung duduk persis di hadapannya. Karena kami keluarga, maka dibuatlah pintu penghubung ini,” aku bicara gugup.“Namamu siapa, sih?” Tanya Mbak Marissa.“Mirza!”“Ah, huruf depannya sama-sama M dengan saya. Eh, ngomong-ngomong, Mbak baru bikin brownies buat mama kamu, nih!” Mbak Marisa mengangsurkan sepiring brownies.Aku mengucapkan terimakasih.




















