Goyangan Ekspat Di Shenzhen, China – 4

Setelah meyelipkan beberapa lembar uang tip dan membayar bir, aku kembali ke kamar.Tiba di kamar, semua perabot yang berhubungan dengan profesiku kumasukkan ke dalam lemari, dari sepatu, koper, topi, dasi, ID…, pokoknya ruangan kurapikan dengan kilat agar terkesan aku sedang berlibur di Ambon.Ternyata dugaanku benar, telepon berdering. Hal ini diperkuat ketika pada malam terakhir (hari kelima) Yuni semakin berani mencari kesempatan ngobrol berdua denganku. Bokep Barat “Siapa Lin?”
“Ngga ada suara, telepon kaleng kali”
Aku tersenyum kecut, “wah pasti si Yuni”, pikirku. Lina menelannya lalu membersihkan mulutnya.Kini giliranku. Bibir kami saling menyentuh, melebur dengan lembut lalu menghangat. “Sabar Jul..”, begitulah kira-kira kata hatiku.Sekitar dua menit kemudian darahku sudah mengalir lebih tenang. Tergoda juga sih.., but prinsip is prinsip.Kini Yuni di depan mataku, tinggal sontok dan tanpa tawar lagi namun keberuntungan masih di pihakku. Di perjalanan menuju bandara, captain frank berbisik “lembur ya?” (lembur = lempengin burung).

Goyangan Ekspat Di Shenzhen, China – 4

Related videos