Kukulum lagi bibirnya, sekarang tanganku mengangkat bagian bawah bajunya. ahh.. Film Porno Membuat mataku rabun dan pikiranku yang sudah terkontaminasi obat melayang.Nia menggerak-gerakkan pinggulnya lagi. Setelah tamat, ia kembali ke Surabaya dan bekerja di sebuah bank swasta yang namanya cukup kondang di Indonesia.Ceritanya sangat panjang (dan siapapun takkan mau mendengarnya, membosankan), namun yang kutahu saat itu aku butuh teman untuk bicara, untuk.. Waktu itu aku sedang sendiri. Kuremas lubang kemaluanya sambil tertawa. Aku menangis semakin keras, mengerang dan terisak, sesekali menguap dengan gerakan sesamar mungkin, sekedar memastikan air mataku tetap keluar. Nia mencondongkan kepalanya. mm.. “Ray.. “Kamu ada masalah apalagi dengan Enni?”
“Biasa, sifat kekanak-kanakannya belum mau hilang.”
“Ya sudahlah, tadi dia nangis telpon aku..”
“Lalu? Ah, aku sendiri heran, mengapa perpisahan yang kali ini membuatku sedikit sakit hati. “Hhh.. aku juga minta maaf..” Akhirnya siasat ini memang tak pernah gagal.Nia diam saja saat aku membalikkan tubuhku dan mengecup bibirnya. Lampu, sempat aku celingukan seperti orang bingung menatap sekelilingku.




















