Ibu Tiri Yang Pengen Gue Tembak (volume #28, Adegan #4)

Akhirnya aku kabulkan ajakan Ramah karena penuh dengan harapan akan mendapat cerita dari Ramah.Akhirnya kami bergegas mau pergi, pemilik café langsung menegur “abang mau pulang ? Pelayan café sangat ramah juga genit, sekali-sekali tangannya suka menggoda dan merabah-rabah paha pengunjung.Hujan grimis masih membasahi jalan raya, cuacapun semakin dingin, pengunjung café sudah kosong, tinggal kami berdua dan dua orang pelayan café, saat itu jam 1.30 Wibb. Bokep Indo Tubuhnya yang mungil dan cantik di terpa angin yang kencang. Ramah menjawab ia, tapi dia udah mau pulang bang, abang datang ya ? Hati-hati di jalan licin bang. Kurang lebih limabelas menit dimuka café, penulis mengajak gadis itu kedalam café. Ramah menjawab ia, tapi dia udah mau pulang bang, abang datang ya ? Rahmah tidak tahu kemana lagi mengadukan nasipnya, hanya di benaknya bagaimana bisa makan dan tidur. aku tertunduk sejenak di pinggir tempat tidur sambil mengisap rokok Sampoerna, sementara Ramah tidur dipagkuan aku sambil memeluk pinggangku. Baru Ramah tahu mulai dari perteman tadi dianya ngomong

Ibu Tiri Yang Pengen Gue Tembak (volume #28, Adegan #4)