“Emang boleh?” tanya saya. Bokep Cina Saya mendongakkan kepala, merem melek dan mengerang-ngerang. Dan saat itulah saya merasakan hal terindah dalam hidup saya. Saya sempat berniat kabur, namun ia memegangi lengan saya.“Hey, jangan kabur dong!” ujarnya ramah, meski mengenggam kuat lengan saya. Pak Smith juga tak kuasa melakukan apa-apa untuk menolong saya, karena dua orang preman tinggi besar itu memperhatikannya terus. Tapi jika kantor-kantor kecil seperti kantor saya ini telat membayar tagihan, mereka akan melakukan hal-hal yang diluar perikemanusiaan. Sambil hanya mengenakan kaos oblong dan celana dalam, ia mondar mandir di situ. Wanita itu tersenyum dingin, dan berkata lirih, “Maaf Ivon, aku cuma mengerjakan tugas, demi keselamatanku sendiri.”
Lalu ia berpaling ke arah dua rekannya sambil memberi kode mengajak pergi. Ia berencana untuk mengumpulkan uang dulu sebelum meninggalkan Inggris. Semua berlangsung begitu saja, sampai akhirnya di kantor kecil itu hanya ada saya, beberapa penjaga malam, dan si pemilik kantor, sebut saja namanya Pak Smith. Ia terus mengulum, menjilat, dan menghisap, dan entah ngapain lagi




















