Cukup lama kami berpandangan, aku bingung harus ngomong apa lagi. Bokep Montok Entah siapa gadis berparas cantik itu, mungkin pacar, mungkin teman kuliah, atau siapapun, aku baru pernah melihatnya. Tubuhnya sangat kekar, dadanya dipenuhi bulu-bulu dan tato, tubuh ku terasa merinding melihatnya. Dalam perjalanan pulang di tengah jalan, ia kembali bersikap kurang ajar. Kulihat matanya jelalatan memandangi tubuhku yang hanya dibalut gaun tidur yang minim ini. Aku kan sudah bapak anggap anak Pak“ kataku memelas, namu Pak doni sudah duduk di atas kepalaku sambil memegang tanganku,“cup…cup….” tangannya yang kasar, mengahapus air mataku yang mulai membasahi pipiku, “tenang Bapak pasti melepaskanmu sayang, tapi nanti ya,”Perlahan tangan Pak Budi mulai mengelus-elus pahaku,“kaki mu putih sekali sayang, Bapak suka,”Aku hanya dapat memejamkan mata, menikmati sentuhan-sentuhan Pak Budi yang sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri, aku benar-benar kecewa dengan apa yang dilakukan mereka terhadapku, kurang baik apa kami terhadap mereka sehingga tega berbuat senista ini.“ha..ha….




















