Pikiranku mendadak kacau. Dua jam berlalu, baru satu pengendara yang berhasil membeli kantong plastiknya. Bokep Asia Aku tetap bertahan di tempatku berdiri, tetap menyaksikan anak laki-laki penjual kantong plastik di dekat tiang lampu merah yang juga masih berjualan. Dia benar-benat ulet. Tapi seperti yang aku katakan, aku tetap bertahan pada tempatku berdiri. Hingga beberapa gerombolan anak datang menghampiri anak laki-laki itu. Mereka juga mengeluarkan sebatang rokok. Dia terlihat girang sekali memperoleh uang seribuan. Anak laki-laki yang berjualan itu malah tersenyum. Dia terlihat girang sekali memperoleh uang seribuan. “Beli ini, Pak, beli ini, Bu,” kata anak laki-laki itu. Mereka kemudian pergi ke tempat yang dituju. Sedikit-sedikit oleng ke kiri, atau oleng ke kanan. “Woi!” teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar. Dia benar-benat ulet. Siapalah aku, aku hanyalah tiang listrik yang mengadu nasib di jalan raya.,,,,,,,,,, Meskipun hujan membuatku gigil, atau panas yang datang tak tanggung-tanggung.




















