Satu dua, satu dua. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Bokep Colmek Lalu asyik membuka tabloid. Ia tersenyum ramah. Ia kerja di sana? Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”
“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Di mana? Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Napasnya tersengal. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Creambath? Hap. Garis setrikaannya masih terlihat. “Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi.




















