Gagah sekali. Tubuhku terbaring. Vidio Porno Lebih besar daripada… penis laknat yg dahulu memperkosaku. Saya tetap jadi pembantu di sini. Tapi bibirnya sudah tebal dan kini agak membesar, setelah melayani penis besar itu dua kali berturut-turut. Aku merasakan penisnya melemas, meluncur keluar. Tunggulah, ya? Ditiduri. Itu, sarapan di atas meja.” Kak Edo mengkerutkan keningnya. Kalau tuan mau meniduri saya… rasanya bahagia.”
“Jangan… jangan bilang begitu…” Aku tersenyum sedih.Aku mengangkat wajah, memandangnya. Aku merasakan penisnya melemas, meluncur keluar. Memenuhi liang. Selangkanganku bersih seperti anak-anak. saya tdk akan melupakan tuan.” Kening tuanku berkerut.Ia nampak marah. Aku mencucurkan air mata. Kekuatannya. Aku memandang Kak Edo, merasakan getaran. Menarik. Aku menjilatinya, membersihkannya.Aku senang mendengar rintihan nikmat Kak Edo. Televisi menyala, berita diisi tentang genangan air dan banjir Ibukota. Keluar lagi. “Saya tetap saja begini, tuan. Ditiduri. Menerobos. Aku masuk dalam pelukannya.“Kita sudah jadi… setubuh. Masih belum bersih. Dalam-dalam. Tapi aku merasa indah, dan mendengar kata-kata cintanya, walau aku tahu ini tdk mungkin, aku sangat bahagia.




















