Sebuah botol besar telah disiapkan untuk menampung air urine saya. XNXX Bokep Viviana kusuruh tidur dengan posisi tertelungkup. Viviana kemudian naik ke atas ranjang dan menyingkapkan roknya. Rupanya ia sudah membuka seluruh pakaian seragamnya lalu menduduki batanganku yang sudah sangat mengeras dan berdiri dengan gagahnya. “Maksud Mbak?” tanyaku pura-pura tidak mengerti. Oleh dokter, saya tidak diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur. “Jangan keras-keras dong Dik…” erangnya nikmat. Ya… aku harus menjilatnya terutama di bagian kecil dan merah itu… ya apa ya namanya? Entah apa namanya.. Sementara Wiwin juga tidak ketinggalan. Tanpa disangka-sangka Mbak Wiwin memegang tangan kananku lalu menuntunnya masuk ke balik seragamnya. Setelah beberapa menit, kami berganti posisi. Saya maunya kencing terus. Sampai-sampai suatu hari saya harus dirawat di rumah sakit A, di kota Surabaya. “Bles… bles… bles…jeb!!” Liang senggamanya berhasil ditembus oleh senjataku. Ya.. “Wah nikmat ya Mbak… Boleh dong aku minta lagi…?” jawabku penuh harap. Tanpa menunggu lagi, aku naik ke ranjang itu lalu kumasukkan dengan dorongan yang amat keras




















